AJAR TEMANKU Sebagai Media Pembelajaran Paperless dan Internetless
“Ada buku paket Pak?”. Kalimat tanya itu yang pertama kali keluar dari lisan beberapa murid kelas VII-1. Kelas perdana yang saya masuki untuk jadwal pembelajaran prakarya di awal semester pada kurikulum merdeka SMP 10 Barru. Sontak jawaban saya yang mengatakan “Belum ada nak!” menjadi awal masalah yang memerlukan solusi untuk menyiapkan sumber dan media belajar bagi murid di Kelas VII pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Secara umum murid SMP 10 Barru sudah menggunakan smartphone untuk berkomunikasi. Tetapi ada stigma negatif murid membawa smartphone ke sekolah. Pada semester lalu salah satu orang tua siswa menelepon saya untuk mengkonfirmasi anaknya yang meminta smartphone untuk digunakan pada pembelajaran di sekolah. Karena sepengetahuannya smartphone dilarang untuk dibawa ke sekolah. Kekhawatiran orang tua ini dirasakan juga oleh sebagian besar orang tua murid yang lain di SMP 10 Barru. Bukan tanpa alasan, dari hasil penelusuran guru bimbingan konseling pada beberapa murid yang bermasalah diperoleh bukti adanya grup WhatsApp pornografi yang melibatkan sebagian murid SMP 10 Barru sebagai anggota grup. Semenjak temuan tersebut, smartphone dilarang untuk dibawa ke sekolah, kecuali dengan izin dari guru BK.
Maka sebagai guru, saya menyiapkan sumber dan media belajar prakarya untuk satu tahun dalam bentuk aplikasi android yang seluruh fiturnya bisa diakses secara offline. Untuk mengakrabkan, media ini saya beri nama AJAR TEMANKU yang merupakan akronim dari Aplikasi Belajar Teknologi Miniatur dan Kuliner. Adapun untuk asesmen, saya manfaatkan smartphone murid yang terhubung ke router dan server lokal sehingga proses dan hasil asesmen dari murid dapat saya kontrol dalam jaringan lokal.
Manajemen pembelajaran paperless dan internetless ini mendapat apresiasi yang baik dari manajemen sekolah yang sebelumnya terkesan sangat kaku dalam mengizinkan murid untuk menggunakan smartphone dalam pembelajaran di sekolah. Demikian halnya terhadap orang tua siswa yang sebelumnya khawatir, bisa merasa tenang dengan murid yang terhindar dari penggunaan gadget yang negatif, karena murid membawa smartphone ke sekolah tanpa kuota data. Bahkan, orang tua yang khawatir kuota data internetnya disalahgunakan oleh murid dapat mencabut simcard smartphone sebelum dibawa ke sekolah. Dan puncaknya, murid merasa pembelajarannya menyenangkan. Pada saat bertemu murid diluar jam pelajaran mereka umumnya bertanya “belajar prakarya nanti pakai HP lagi Pak?”