Memanfaatkan Potensi Lokal sebagai Solusi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi
Bagi Masyarakat Petani di Sekitar Sekolah Melalui
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)
Oleh : Dra. Hasniar
Guru SMA Negeri 3 Sinjai
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim bersama tim tak henti-hentinya melakukan evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan pendidikan di semua jenjang dalam rangka pemulihan kondidisi pendidikan di Indonesia. Indonesia telah mengalami Learningloss selama beberapa dekade dan diperparah dengan kehadiran Pandemie Covid-19. Menurunnya karakter anak bangsa menjadi masalah kursial, menuntut semua elemen harus bahu membahu agar bangsa ini tetap memiliki generasi yang kuat sebagai pelanjut cita-cita luhur bangsa Indonesia. Berbagai kebijakan diluncurkan. Salah satu diantaranya lewat Kepmendikbud nomor 262/M/2022 sebagai perubahan atas Kepmendikbud nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran pasca pandemi.
Struktur Kurikulum SMA yang termuat dalam Kepmendikbud ini, memberikan ruang kepada guru melakukan pembelajaran kokurikuler secara berkolaborasi berupa Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sekitar 30 % dari total jam pelajaran per tahunnya. Projek dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.
SMA Negeri 3 Sinjai mulai melaksanakan Kurikulum Merdeka pada tahun pelajaran 2022/2023 dan memilih status mandiri berubah di kelas X. Saya diamanahkan sebagai koordinator dalam program P5 ini . Karena kebutuhan pemenuhan jam mengajar guru dan untuk memudahkan proses pelaksanaan projek, maka dibentuk 3 koordinator kelas. Berbagai persiapan dilakukan, diantaranya pertemuan awal pimpinan dan guru-guru untuk menyamakan persepsi tentang P5, penentuan tema dan bentuk kegiatan projek, penentuan jadwal pelaksanaan projek dan sosialisasi kepada orang tua murid.
Tema pertama yang dipilih adalah Gaya hidup berkelanjutan dengan judul Membuat Pupuk Organik Bokashi yang akan dilaksanakan menggunakan sistem blok yakni dikumpulkan pada pekan keempat di setiap bulan berjalan. Dengan mengangkat tema Gaya Hidup Berkelanjutan dan mengacu pada profil pelajar Pancasila, projek Pupuk Organik Bokashi bertujuan untuk melatih peserta didik lebih peka dan kreatif dalam memecahkan masalah lingkungan yang ada di sekitarnya demi menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup manusia melalui kegiatan merancang, membuat produk hingga hasilnya dapat diaplikasikan di kebun sekolah dan dapat disosialisasikan pada Pameran Karya Hasil Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Tantangan muncul karena masih saja terjadi miskonsepsi pada pelaksanaan P5 bagi sebagian besar guru dan siswa termasuk para koordinator dan wali kelas. Tahapan Aktivitas masih dominan diarahkan pada pembuatan produk, tidak mengedepankan pencapaian keenam Dimensi profil pelajar Pancasila. Penilaian masih fokus pada produk tanpa memperhatikan rubrik penilaian yang terkait dengan pencapaian Dimensi profil pelajarpPancasila.
Olehnya itu, saya berusaha menyamakan pemahaman para koordinator kelas dengan menggunakan modul ajar P5 yang saya modifikasi dari contoh projek yang disiapkan pemerintah sehingga bisa melakukan langkah untuk mendukung ketercapaian dari tujuan pembelajaran pada kegiatan kokurikuler tersebut. Projek ini menggunakan alur Proses Desain Rekayasa (Engineering Design Process). Kegiatan dimulai dari berdiskusi menentukan masalah yang ingin dipecahkan, mencari tahu dan mengumpulkan ide solusi terhadap masalah yang disepakati, membuat konsep/rancangan, menguji coba rancangan, merenovasi hasil uji coba yang sudah dilakukan berdasarkan hasil refleksi untuk membuat prototipe menjadi lebih baik lagi, lalu mensosialisasikannya pada publik di kegiatan Pameran Karya Sekolah pada akhir semester ganjil dan merefleksikan umpan balik yang didapatkan dari publik. Siklus ini dikenal dengan alur MAKERS yang alurnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Merujuk pada alur tersebut, di jam 1-2 hari pertama pelaksanaan projek, setelah pelaksanaan upacara hari Senin murid-murid dari semua kelas berkumpul di Aula sekolah yang kami sebut kelas besar untuk mendengarkan penjelasan mengenai agenda kegiatan projek selama satu semester dari koordinator projek, tujuan yang hendak dicapai, alur kegiatan dan bentuk asesmen untuk mengukur ketercapaian tujuan dari pelaksanaan projek. Setelah itu, murid masuk di kelas masing-masing dipandu guru mata pelajaran yang mengajar di kelasnya pada jam itu. Guru memandu murid melakukan pengamatan di dalam lingkungan sekolah dan sekitarnya, lalu memfasilitasi mereka menyampaikan hasil pengamatan dan berdiskusi di dalam kelas tentang masalah yang ditemukan terkait lingkungan. Hasil diskusi di semua kelas menyimpulkan bahwa terdapat banyak lahan kosong di dalam lingkungan sekolah yang tidak diberdayakan. Lahan kosong tersebut terbengkalai, hanya ditumbuhi rumput dan memiliki jenis tanah bermasalah, keras dan tidak subur. Di beberapa tempat terdapat tumpukan sampah dan terlihat banyak tumpukan jerami di sawah-sawah penduduk yang menghampar di sekitar sekolah.
Seiring pergantian jam, guru pun bertukar dengan guru lain sesuai jadwal pelajaran dan melanjutkan memandu kegiatan diskusi untuk menemukan satu masalah yang paling urgen dicarikan solusinya. Murid diminta berliterasi dalam kelompok, kemudian berdiskusi untuk menyepakati satu solusi yang akan dijadikan kegiatan dalam projek penguatan profil pelajar Pancasila. Tiap kelompok mempresentasikan hasil temuan dan diskusinya hingga mendapatkan kesepakatan untuk membuat pupuk organik Bokashi. Keenam Dimensi Profil Pelajar Pancasila dengan berbagai elemennya diharapkan dapat terbentuk menjadi budaya dan tumbuh menjadi karakter murid lewat projek pembuatan pupuk organik Bokashi ini sehingga kompetensi murid berkembang secara holistik. Selain itu, apa yang dihasilkan dalam projek ini semaksimal mungkin diupayakan untuk bisa menjawab permasalahan yang dihadapi orang tua murid dan masyarakat di lingkungan sekitar sekolah yang mayoritas petani menengah ke bawah.
Seperti apa Modul Ajar yang digunakan dan bagaimana murid melakukan projek ini hingga akhir tahapan? Semua terangkum dalam laporan aksi nyata saya untuk memenuhi tugas penyelesaian modul pelatihan mandiri di Platform Merdeka mengajar (PMM) pada topik Perencanaan Pembelajaran SMA/SMK/Paket C dan dapat diakses pada link berikut :
https://guru.kemdikbud.go.id/pelatihan-mandiri/topik/13
Bagian akhir dari projek adalah Pameran Karya. Pameran karya dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Cabang Wilayah V Provinsi Sulawesi Selatan, Pengawas, Ketua Komite Orang Tua Siswa, para orang tua siswa dan seluruh warga sekolah. Semua yang hadir memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan projek yang telah menghasilkan produk yang sangat bermanfaat dan sesuai kebutuhan orang tua murid dan masyarakat sekitar. Pada sesi refleksi yang dilakukan siswa dan para pengunjung terungkap, bahwa pupuk Bokashi menjadi solusi bagi kelangkaan dan meroketnya harga pupuk bersubsidi bagi orang tua murid dan masyarakat di sekitar sekolah yang mayoritas petani kalangan ekonomi menengah ke bawah. Bahan baku yang terdiri dari jerami, sekam, dedak, dedaunan basah dan kering serta sampah organik lainnya bisa didapatkan di mana-mana, tidak membutuhkan modal besar. Murid-murid juga merasakan kepuasannya telah berproses menjadi sosok murid yang mandiri, mampu bekerja dalam tim, kreatifitasnya berkembang dan kemampuan bernalar kritisnya bertumbuh. Perasaan murid-murid dan para pengunjung lainnya diekspresikan dengan gambar emoji pada tempat yang sudah disediakan. Murid-murid juga melakukan refleksi secara tertulis dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait pelaksanaan projek.
Perkembangan kompetensi dan karakter murid juga teruji pada saat perwakilan murid yang mengikuti Pameran Hasil P5 yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Murid-murid kami yang terdiri dari 3 orang dalam satu tim dengan sangat lugas dan lancar menjelaskan bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan, apa yang dihasilkan dan dimensi profil pelajar Pancasila apa yang berkembang pada dirinya selama projek berlangsung saat diwawancarai oleh para pengunjung dan Tim Penilai. Kepuasan dan kebanggaan terhadap kemampuan dirinya memuncak di saat nama sekolahnya disebutkan sebagai peserta terbaik 1 pada pameran ini dan kembali mereka diminta untuk tampil di atas panggung menceritakan projek yang telah dilakukannya dan menjawab berberapa pertanyaan dari pengunjung.
Berbagai hal baik sudah dicapai, namun masih banyak yang perlu dibenahi. Salah satu diantaranya, pameran karya masih cenderung menjadi ajang kompetisi untuk saling membandingkan produk yang dihasilkan kelas yang satu dengan kelas lainnya, yang harusnya menjadi ajang untuk berefleksi agar dapat menentukan bentuk kegiatan pada tahapan tindak lanjut sebagai aktualisasi pengalaman belajar selama melaksanakan projek dan penguatan profil pelajar Pancasila murid. Tidak mudah memang untuk melakukan transformasi secara totalitas dalam waktu singkat. Tapi, paling tidak sekolah sudah memulainya dan lambat laun ketika insan-insan penggerak tidak berhenti tergerak, bergerak dan menggerakkan komunitasnya untuk terus berbenah, pada akhirnya akan tiba pada garis finish, yakni tercapainya tujuan pendidikan nasional.