Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

PENERAPAN BUDAYA “MAPPATABE” DALAM MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK SEJAK DINI

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Sebagai guru dalam mendidik peserta didik di sekolah bukan hanya memberi pengetahuan akan tetapi yang lebih penting adalah membentuk karakter sebagai salah satu modal bagi peserta didik hidup bermasyarakat.Salah satu problema yang sangat nampak di kehidupan sekarang yakni sudah berkurangnya dan bahkan nyaris hilang karakter peserta didik berupa nilai rasa hormat, baik ras hormat pada gurunya ataupun rasa hormat kepada orang lebih di tuakan ,oleh sebab itu selaku guru saya merasa memng sangat perlu adanya suatu program pembelajaran karakter bagi peserta didik saya.Pembelajaran karakter di sekolah adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengajarkan peserta didik  nilai-nilai moral, etika, tanggung jawab, empati, kerjasama, dan keterampilan sosial lainnya yang penting dalam membentuk kepribadian dan karakter mereka. Sebagai langkah awal dari pembelajaran ini yaitu sekolah perlu menetapkan nilai-nilai inti yang ingin ditanamkan dalam siswa, seperti kejujuran, integritas, rasa hormat, kerjasama, dan kepedulian terhadap lingkungan, selain itu Sekolah mengintegrasikan pembelajaran karakter ke dalam kurikulum mereka dengan mengajarkan nilai-nilai tersebut dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan di sekolah.dan yang tak kalah penting  yakni  Siswa diajak untuk memahami pentingnya karakter yang kuat dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam membentuk karakter peserta didik di sekolah bukan hal yang mudah dan instan, kita akan dihadapkan dengan berbagai tantangan. tantangan yang paling mendasar yakni konsistensi dari seluruh stakeholder yang ada di sekolah yakni  kepala sekolah guru, tendik, serta semua orang –orang yang terlibat dalam kegiatan di sekolah, Tantangan selanjutnya adalah bahwa setiap siswa memiliki latar belakang budaya dan nilai-nilai yang berbeda. Sehingga perlu penyesuaian pengajaran karakter agar relevan bagi semua siswa, dan yang paling tidak penting yakni bahwa pengajaran karakter harus didukung oleh peran orang tua di rumah. karna akan muncul masalah yang baru  ketika ada ketidakcocokan antara nilai yang diajarkan di sekolah dan yang diterapkan di rumah.

Bercemin dari problem mulai hilangnya nilai rasa hormat dari generasi sekarang khususnya peserta didik di sekolah maka salah satu program yang  ini saya terapkan di sekolah  adalah Program budaya “Mappatabe” dalam memupuk nilai rasa hormat peserta didik, Adapun pengertian “Mappatabe‟ berasal dari kata “tabe‟ sebuah ucapan yang mencerminkan sopan santun bagi si pengucap. Buaya “ Mappatabe” ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan  masyarakat suku bugis sebagai bentuk memberikan rasa hormat kepada orang, misal ketika hendak melewati seseorang dengan mengucapkan kata”tabe” sebagai permintaan maaf terlebih dahulu atau meminta izin selain itu dibarengi dengan sikap tunduk atau membungkukkan badan sedikit dan menggerakan tangan ke bawah. Dalam menerapkan budaya “ Mappatabe “ ini saya mulai dari saya sendiri serta  mengajak teman-teman guru dan stkeholder  yang ada  harus menjadi contoh teladan dalam perilaku yang menggambarkan nilai-nilai budaya “ Mappatabe “  ini, dengan mencontohkn langsung di depan peserta didik dalam berkegiatan di sekolah  peserta didik  diharapkan dapat  merefleksikan bagaimana mereka dapat menerapkannya  budaya “ Mappatabe “ ini dalam kehidupan sehari-hari mereka dan memberikan efek untuk pembentukan karakter dengan cara berperilaku atau bertata krama yang baik terhadap orang tua, masyarakat dan terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Selain mencontohkan langsung, saya juga memasang spanduk tentang program ini,serta menjadikan program ini sebagai topic utama dalam seiap penyampain misalnya saat upacara bendera atau apel pagi bahkan pada saat refleksi di akhir pembelajaran.

Saya sangat menyadari bahwa pembelajaran karakter adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan komunitas untuk mencapai hasil yang maksimal dalam membentuk karakter siswa. Oleh karna itu  meski hasilnya tidak instan dan tidak langsung 100% berhasil,akan tetapi saya meyakini bahwa  penerapan budaya “Mappatabe “ ini dapat menghasilkan peserta didik  yang lebih memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, menghasilkan peserta didik yang mampu  mengembangkan keterampilan sosial yang kuat yang ditunjukkan melalui sikap empati terhadap orang lain yang berpengaruh positif lingkungan di sekitar mereka. Dan lebih khusus lagi dengan program penerapan budaya “Mappatabe” ini dapat  berkontribusi dalam  menciptakan suasana lingkungan sekolah yang positif, aman, dan ramah bagi sekola saya.Hal ini terlihat dari evaluasi yang saya lakukan sudah ada sebagian siswa yang sudah mampu menunjukkan prilaku “Mappatabe” tanpa perlu di ingatkan lagi.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.