Temu Pendidik Nusantara XII

Select Language

Menanamkan Budaya Literasi dengan Metode 6 M

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Saya Natalius Tarigan, kepala SMP SATU PADU Boarding School – Tiga Juhar, melihat bahwa minat baca dan menulis di sekolah kami masih sangat rendah. Siswa-siswi kurang menggunakan waktu luang untuk membaca buku, dan lebih memilih untuk bermain. Demikian juga halnya dengan guru. Para guru juga ternyata kurang memiliki minat untuk membaca. Kurangnya sosok guru terpelajar, yang giat dalam literasi, yang dapat menjadi teladan bagi siswa dalam menanamkan budaya baca dan menulis. Seharusnya, Guru harus mampu menjadi contoh dalam menanamkan budaya literasi, baik literasi membaca maupun menulis. Maka, tujuan yang diharapkan adalah Literasi di sekolah kami harus bertumbuh dan berkembang sehingga menjadi budaya positif. Baik guru maupun siswa dapat meningkatkan minat baca dan menulis.

Untuk menumbuh kembangkan minat baca dan menulis tidaklah mudah. Tantangannya banyak, mulai dari diri bapak ibu guru, sarana dan prasarana perpustakaan dan juga pemahaman siswa terhadap pentinganya budaya literasi. Maka, peran bapak ibu guru sangatlah penting dalam menanamkan budaya literasi bagi siswa. Seorang guru harus mampu menjadi contoh dan teladan bagi siswa untuk menanamkan budaya baca dan tulis di sekolah. Jika seorang guru sudah memulai, siswa pasti akan mulai mencontoh dan mengukuti.

Ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya, keinginan guru untuk menambah wawasan melalui membaca masih sangat minim, hal ini terbukti bahwa hanya sedikit guru yang meluangkan waktu untuk membaca buku, baik di perpustakaan sekolah atau juga secara pribadi. Hanya sebagian guru yang menyisihkan uang untuk membeli buku, baik itu buku bacaan atau juga buku referensi untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru. Guru hanya mengandalkan buku dari sekolah saja atau buku pegangan guru saja. Melihat situasi tersebut, maka, kami berusaha memberi kesempatan, memberi ruang agar guru mampu mengasah literasi baik baca dan juga menulis.

Untuk meningkatkan minat baca dan menulis di sekolah kami, langkah yang kami lakukan adalah dengan melakukan metode 6 M¸yaitu Membenahi Diri, Membentuk Komunitas, Membiasakan Diri, Mewujudnyatakan, Membudayakan, dan Mengapresiasi.

Pertama: Membenahi Diri

Langkah pertama yang kami lakukan adalah membenahi diri para guru dengan melakukan seminar dan pelatihan tentang literasi. Pelatihan ini kami lakukan agar guru menyadari betapa pentingnya menanamkan budaya literasi di sekolah, baik bagi diri sendiri juga bagi perkembangan siswa. Untuk menunjang perkembangan budaya literasi ini, sekolah juga membenahi diri dengan menambah buku-buku refrensi dan buku perpustakaan, baik buku cetak maupun buku Digital.

Kedua: Membentuk Komunitas

Setelah dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan tentang literasi, dan agar program ini dapat berjalan dengan baik, maka kami membentuk komunitas yang akan berfokus pada penanaman budaya literasi di sekolah kami, Komunitas kami adalah Komunitas Pejuang Literasi. Selanjutnya, Bersama komunitas, kami mencari strategi, Langkah-langkah untuk membudayakan literasi ini. Dan kami menggerakkan agar guru meluangkan waktu untuk membaca dan mulai menulis, dan agar lebih giat membaca buku, artikel dan sebagainya.

Ketiga: Membiasakan Diri

Agar budaya literasi dapat bertumbuh dan berkembang, maka harus dimulai dari diri sendiri. Guru harus mencoba membiasakan diri untuk membaca dan menulis, walau dalam hal yang sangat kecil. Seperti menulis catatan harian, pengalaman harian atau juga refleksi pembelajaran.

Keempat: Mewujudnyatakan

Dalam memperingati Hari Guru Nasional, kami melaksanakan sebuah kegiatan, yaitu lomba menulis karya ilmiah bagi guru. Dan ternyata, guru-guru di sekolah kami sangat antusias mengikuti kegitan ini. Dari hasil lomba tersebut, guru mampu menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah dan akhirnya dicetak menjadi sebuah buku.

Kelima: Membudayakan

Dari pengalaman tersebut, komunitas Litersai mengarahkan agar bapak ibu guru mulai mencoba menanamkan dan menumbuhkan minat baca dan menulis siswa-siswi. Menanamkan betapa pentingnya budaya literasi, baik membaca maupun menulis. Untuk menanamkan Budaya literasi ini kami gunakan waktu selama 15 menit setiap paginya untuk melaksanakan kegiatan Literasi. Setiap siswa menggunakan waktu Literasi untuk membaca buku, cerpen, puisi dan sebagainya. Kegiatan jam literasi ini, selalu didampingi dan dibimbing oleh guru. Siswa diarahkan, untuk mencoba menulis dari hasil bacaannya tersebut.

Keenam: Mengapresiasi Hasil Karya

Ternyata, ada Sebagian siswa yang sudah berani dan mampu menulis sebuah karya, baik puisi, kata-kata bijak, atau rangkuman dari hasil bacaannya. Sebagai bentuk apresiasi, hasil tersebut dipajang di madding kelas, dikumpulkan, dan dijadikan sebuah buku. Alhasil, sekolah kami mampu menghasilkan tiga buku, yaiut satu buku karya ilmiah Guru, dan dua buku karya siswa, yaitu Antologi Puisi dan Antologi Cerpen.

Ternyata untuk meningkatkan minat baca dan menulis siswa dan guru tidaklah mudah. Guru harus mampu menjadi contoh, guru harus mampu mengarahkan siswa. Siswa akan lebih tergerak jika guru memberi teladan dalam membaca dan menulis.

Dengan membentuk Komunitas Literasi, para guru semakin terdorong untuk membenahi diri, terutama untuk mengembangkan budaya literasi di sekolah kami. Komunitas Pejuang Literasi selalu berusaha menyuarakan budaya literasi baik kepada sesame guru, maupun kepada siswa-siswi.

Banyak perubahan yang sungguh kami alami, terutama dalam budaya literasi. Mulai dari nilai Rapor Pendidikan, Kemampuan Literasi di sekolah kami meningkat 27,46 %, yang awalnya kemampuan literasi skor di Rapor Pendidikan kami tahun 2022 adalahg 68, sekarang tahun 2023 mengalami kenaikan, skor Rapor Pendidikan kami menjadi 86,67. Bapak ibu guru juga meluangkan waktu untuk membaca, dan menulis, baik untuk meningkatkan kompetensi diri dan juga menjadikan menjadi hobby. Demikian halnya dengan siswa, walau belum mencapai 80 hingga 90 %, minat siswa untuk membaca dan menulis juga semakin berkembang.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.