BELAJAR MATEMATIKA ASIK, MURID MENJADI TERTARIK
Memasuki tahun ajaran baru (2022) saya mengajar di kelas 4 SD untuk ketiga kalinya dan salah satunya mengajar pelajaran matematika. Pelajaran matematika yang seringkali dianggap kaku dan sulit dipahami menjadikan murid-murid saya merasa terbebani ketika mengikuti proses pembelajaran. Sebagian dari murid-murid saya ketika memasuki pelajaran matematika terkadang sudah memasang mindset sulit, pusing dan ingin segera selesai jam pembelajaranya. Melihat kondisi yang seperti itu, sebagai guru saya memiliki keinginan agar murid-murid saya bisa belajar matematika dengan antusias tanpa merasa tertekan dan kesulitan dalam mempelajari materi yang diberikan. Melalui pemberian asesmen diagnostik kognitif dan nonkognitif diawal tahun pembelajaran serta observasi di kelas secara langsung sebagai modal saya menerapkan pembelajaran matematika yang asik dan mudah dipahami murid. Harapanya dapat meningkatkan kompetensi numerasi mereka tentang apa yang dipelajari sehingga dapat menemukan solusi permasalahannya.
Dari kondisi awal yang murid-murid rasakan , maka saya merefleksikan diri. “apa yang membuat mereka kurang semangat saat pelajaran matematika ya?” sehingga saya mencoba menentukan strategi pembelajaran matematika yang dapat membuat murid-murid saya antusias dalam belajar. Namun dalam mewujudkan pembelajaran matematika yang asik dan membuat murid menjadi tertarik mempelajarinya juga memiliki tantangan. Salah satu tantangan utamanya adalah apa yang menyebabkan murid tidak semangat belajar matematika, kesulitan seperti apa yang mereka rasakan dalam belajar matematika, kemudian pengetahuan awal yang telah murid miliki sebelumnya juga merupakan tantangan tersendiri.
Dengan kondisi yang demikian, saya langsung mengambil langkah perbaikan. Langkah pertama yang saya lakukan sebelum mengawali pembelajaran matematika, saya melakukan circle time dengan murid-murid saya melalui kegiatan refleksi bersama, membuat kesepakatan bersama serta berdiskusi pelajaran matematika yang saat itu membahas tentang bangun datar. Saya meminta mereka untuk menyampaikan pendapatnya bagaimana evaluasi proses belajar di kelas yang mereka rasakan. Jawaban mereka adalah terkadang bosan harus mikir terus, ingin diselingi dengan ice breaker dan salah satu jawaban murid saya yang lain yaitu ingin belajar matematika dengan permainan. Mendengar beragam jawaban yang mereka utarakan membuat saya harus melakukan inovasi pembelajaran. Langkah kedua yang saya lakukan adalah melakukan inovasi pembelajaran yaitu membuat media pembelajaran matematika dengan media tangram sederhana. Melalui media tangram ini murid dapat mewarnai sesukanya, menggunting pola dan menyusun potongan macam-macam pola tangram membentuk bangun datar. Dimana dengan strategi menyusun pola ini maka beberapa murid memiliki jawaban yang berbeda-beda sesuai pola tangram yang mereka buat.
Tanpa mereka sadari, dengan media tangram sederhana ini mereka tampak belajar matematika dengan antusias dan semangat. Salah satu momen yang membuat saya tersenyum lepas adalah ketika salah satu murid saya menemukan potongan pola-pola tangram ini menjadi 3 bentuk bangun datar yang membuat teman-teman lainnya tidak mau kalah untuk terus mencoba dan mencobanya. Sehingga beberapa teman lain menyusul sampai ada yang mendapatkan 5 bentuk bangun datar yang saya sendiri tidak berekspektasi.
Dampak dari pembelajaran matematika yang menggunakan media tangram sederhana ini membuat murid-murid saya lebih antusias dalam mengikuti pelajaran matematika, pelajaran yang awalnya mereka anggap membosankan sekarang mulai tertarik belajar dan saat di kelas mereka menjadi lebih aktif serta semangat belajar.
Oleh : Destiana Tri Rahmawati,S.Pd