Temu Pendidik Nusantara XIII

Select Language

Murid Aktif-Projek Inovatif dengan Design Thinking

Praktik baik Sebelum Direvisi

[revisi_terbaru]

Elaborasi Praktik Baik

Boro-boro mengajak murid berinovasi saat mengerjakan projek.
“Diskusi dengan lihat buku saja SUSAH!”
Itu yang saya rasakan sebagai guru “murid-murid usia puber” saat mengajar di SMP Darul Ikhsan, Gamer, Pekalongan. Saya ingin murid-murid pandai berpendapat, kelas yang aktif, namun kenyataannya sebaliknya. Murid saya berasal dari berbagai latar belakang, ada yang dari kota besar seperti Jakarta, Semarang, Palembang, Pekalongan, adapula yang berasal dari daerah Moga, Wonobodro. Tentunya mereka sangat berbeda.

Awal sekolah berdiri, murid-murid di kelas 7 awalnya hanya duduk manis, tangan sedekap di atas meja, hal ini justru menambah kebingungan, karena kelas kurang dinamis, mereka sulit diajak pembelajaran dua arah. Bahkan ketika rekan guru minta murid membuat pertanyaan bebas seputar lingkungan, eh murid malah nyontek buku. Pernah pula saya ajak main game yang mengharuskan berargumen antarpemain. Murid hanya bisa menjawab Ya/Tidak ketika ditanya, tanpa memberikan opini. Di praktik baik ini, saya akan bagikan cara mulai melakukan perubahan agar murid yang demikian jadi murid yang senang berpendapat, bahkan bisa berinovasi saat mengerjakan projek.

Di tahun 2018 saya mengikuti Kelas Design Thinking yang diselenggarakan Komunitas Guru Belajar Nusantara Pekalongan dengan narasumber Bu Putri Rizki DL yang waktu itu mahasiswi Pasca Sarjana University of Glasgow, di lokasi yang sama dengan TPN X ini SMK Muhammadiyah Pekalongan. Dari situ saya mempelajari, berinovasi bisa dimulai dengan berempati, memahami dulu. Saya pun berpikir. Jangan-jangan topik diskusi terlalu jauh dari murid? Sehingga mereka kesulitan berargumen di kelas? Saya pun mulai mengganti pertanyaan-pertanyaan pemantik yang digunakan di kelas. Bukan lagi “Siapa yang tahu puisi” tapi langsung memberi konteks, “kitab salawat apa yang disukai?” lalu dianalisis keindahannya. Bukan “Ada yang tahu apa itu distribusi?”, tapi pertanyaan “Jajan yang ada di kantin asalnya darimana?”

Setelah merasa murid saya berubah keaktifannya di kelas, termasuk aktif berpendapat, siap saya pun coba menerapkan langkah design thinking saat mengerjakan projek secara berkelompok di kelas. Saat menerapkan pembelajaran berbasis projek waktu itu memang saya masih miskonsepsi, produknya sudah saya tentukan, yakni membuat Game Edukasi untuk mengatasi masalah di sekitar.

Dengan kondisi murid saya dengan beragam kendala, sebelum saya mulai, saya pun mengantisipasi masalah yang bisa muncul. 

No. Masalah Solusi
1 Kerja kelompok, tapi yang kerja individu, lainnya numpang nama Pembagian kelompok dengan peran jelas di tiap anak, sesuai potensi
2 Murid kesulitan berdiskusi banyak diamnya. Pertanyaan pemantik yang dekat dengan murid.
3 Takut salah saat menentukan masalah maupun ide solusi. Pendampingan guru agar murid percaya dengan opini

Niat saya ini agak nekat, karena buat murid kelas 8 SMP konsep Design Thinking belum pernah mereka dengar. Gurunya aja baru dengar. Di depan papan tulis saya berkata dengan lantang “Bagaimana kalau kita belajar bikin game buat dimainkan bareng-bareng?”

Murid-murid menyambut riuh, 

“Gamenya tentang apa Pak Maman?”

Saya pun menjawab.

“Biar bisa membuat gamenya kita akan melewati beberapa langkah dulu.”

  1. Belajar Design Thinking
    Murid saya ajak sekadar mengenal fungsi dan tahapnya secara umum.
  2. Nyobain beberapa game untuk inspirasi
    Murid saya ajak memainkan permainan papan/kartu seperti mathcat, memanen aren dsb. Harapannya murid jadi mengenal mekanisme permainan itu beragam. 
  3. Mengidentifikasi masalah
    Masalah yang diidentifikasi adalah yang dekat di sekitar.
  4. Mencari solusi untuk masalahnya
    Mendaftar ide solusi secara berkelompok.

Saya pun mengajak murid mengidentifikasi masalah, dengan pertanyaan pemantik  “Hal apa yang paling tidak kalian suka di Pondok?” Seperti dugaan, mereka tetap takut kalau “jawaban” mereka salah, bahkan sampai mengintip ke kelompok, saya pun perlu meyakinkan tiap kelompok boleh berbeda masalah yang diangkat. Hingga akhirnya muncul beragam unek-unek mereka, dari sering merasa kangen dengan orangtua, teman yang kentut sembarangan, tidur ga bisa nyenyak karena teman bolak balik ke toilet dsb

Setelah itu, masing-masing kelompok berdiskusi terkait ide-ide yang bisa digunakan mengatasi permasalahan tadi, seperti untuk masalah kentut sembarangan, ada yang punya ide membuat game mencari tempat kentut, untuk masalah tidur tidak nyenyak karena diganggu, mendaftar perilaku untuk mengurangi gangguan.

Ide-ide yang sudah disepakati tadi kemudian murid tuangkan dalam purwarupa (prototype) Saya kagum pada murid, diskusi seru, mereka bisa membahas masalah yang ada. Bahkan setelah menerapkan design thinking. Ide-ide murid bisa muncul! Sejak saat itu saya pun mengajak guru-guru lainnya belajar design thinking.

Terkait hal ini, tahun lalu saya berkonsultasi dengan Bu Ilona Teach First Indonesia, pembuat modul Pelatihan Guru – Pembelajaran Berbasis Projek Merdeka Belajar.

Pertanyaan saya ke Bu Ilona, “Apakah cerita saya tadi termasuk pembelajaran berbasis projek?” Bu Ilona menjelaskan, memang sering tertukar antara pembelajaran berbasis projek & pembelajaran mengerjakan proyek. Dalam Pembelajaran berbasis projek, muridlah penentu jenis karya yang dihasilkan juga masalah yang diangkat. Maka jika murid hanya disuruh membuat sesuatu, itu hanyalah pembelajaran mengerjakan projek.

Satu lagi, jika karya yang dihasilkan hanya dipresentasikan di kelas, belum diterapkan sesuai konteksnya, maka dianggap baru ditahap prototype saja, belum benar-benar utuh sebagai pembelajaran berbasis proyek. Saya pun berefleksi, ternyata seringkali saya mengatur-atur jenis karya yang dihasilkan murid. Bahkan karya yang dihasilkan belum pernah dipublikasikan maupun digunakan di luar kelas.

Jika Anda mengalami kendala dalam scrolling, scroll di luar dari area Live Chat yang berwarna hitam.